Pengabdian diri pada masyarakat tidaklah mudah untuk dilakukan. Melakukan sesuatu hal dengan tulus hati tanpa adanya iming-iming gaji besar, ketenaran, dan kemewahan fasilitas merupakan arti murni dari pengabdian. Pengabdian tanpa pamrih inilah yang dilakukan oleh Ilham Syifa lulusan magister Ilmu Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM angkatan 2003 di sebuah daerah terpencil. Banyak orang berlomba-lomba berkarier di perkotaan agar dapat meningkatkan taraf hidup, namun Ilham Syifa lebih memilih mengabdikan dirinya di wilayah pedalaman dengan menjadi Kepala Desa Tanjungori, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik. Lokasi desa ini cukup jauh, terletak di Pulau Bawean dan harus ditempuh dengan kapal ferry selama 3,5 jam dari Pelabuhan Tanjung Emas. Ilham Syifa merupakan sosok yang gigih dan berdedikasi tinggi dalam melayani masyarakat Desa Tanjungori. Ia menginginkan terciptanya masyarakat yang mandiri. Selama menjadi kepala desa, banyak kebijakan dan terobosan yang dilakukan oleh beliau dalam memajukan Desa Tanjungori terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan perekonomian masyarakat. Di bidang pendidikan selain diadakannya sekolah formal, Ilham Syifa menginisiasi adanya lembaga-lembaga bimbingan belajar seperti kursus bahasa inggris, informatika (komputer), dan kursus keterampilan lainnya. Di bidang kesehatan, Ilham Syifa dibantu sang istri Faizah Komala (dokter), mempunyai cara tersendiri dalam mengatasi hal tersebut yaitu dengan menggalakan gerakan penanaman tanaman obat keluarga yang dinamakan “Toga” di Desa Tanjungori. Ide ini muncul mengingat kondisi Desa Tanjungori yang berada cukup jauh dari layanan kesehatan. Namun jika warga desa membutuhkan penanganan medis yang cukup kompleks, harus menempuh kurang lebih sejauh 80 mil dan membutuhkan waktu selama 1 jam (cuaca normal). Lebih jauh, Ilham Syifa juga sangat concern terhadap tingkat perekonomian warga desanya. Keadaan ekonomi warga yang rendah membuatnya memutar otak dalam mencari cara agar dapat meningkatkan penghasilan warga Desa Tanjungori. Salah satunya dengan memanfaatkan keindahan alam Desa Tanjungori melalui promosi wisata. Warga Desa Tanjungori yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan dapat menjual hasil tangkapan mereka kepada para wisatawan dengan harga yang cukup tinggi dari biasanya. Para ibu rumah tangga juga didorong untuk berwirausaha dengan menjual makanan dan minuman guna membantu pemenuhan perekonomian keluarga mereka.
Atas pencapaiannya, Desa Tanjungori, yang banyak mendapat perhatian dari khalayak luas, berhasil meraih penghargaan sebagai “Desa Terbaik tingkat Kabupaten Gresik. Pencapaian Ilham Syifa dalam membangun Desa Tanjungori inipun sangat diapresiasi oleh Universitas Gadjah Mada. Pada 2009, Ilham Syifa menerima penghargaan Alumni Award kategori sebagai “Pengabdi Daerah Miskin/Terpencil”
Sumber:
http://www.kabargresik.com/tanjungori-desa-terbaik-di-gresik-2012/