Ketertarikan Bapak Bayu Kusuma Dewanto pada dunia usaha sudah tumbuh sejak ia masih menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM angkatan 1994. Di tengah aktivitas akademik di Kampus Biru, Bayu justru banyak mengasah dirinya melalui berbagai kegiatan yang bersentuhan langsung dengan praktik bisnis, mulai dari usaha kecil-kecilan, penerbitan buku, pengelolaan restoran sederhana, hingga keterlibatan sebagai event organizer. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi ruang belajar penting yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia profesional sampai akhirnya ia menapaki posisi strategis sebagai Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi.
Masa kuliah Bayu juga beririsan dengan periode penting dalam sejarah bangsa. Ia mengenang tahun 1996 dan 1998 sebagai masa yang sangat membekas karena adanya gelombang demonstrasi mahasiswa terjadi hampir di seluruh Indonesia. Momentum sosial dan ekonomi pada masa itu membuat aktivitas perkuliahan nyaris terabaikan karena hampir seluruh mahasiswa turun ke jalan, termasuk di UGM yang kala itu dikenal sangat aktif dalam gerakan mahasiswa. Meski berdampak pada kelancaran studi, pengalaman tersebut meninggalkan pelajaran berharga tentang keberanian bersuara, kepedulian terhadap kondisi bangsa, dan kesadaran kolektif sebagai bagian dari masyarakat.
Nilai-nilai ke-UGM-an yang Bayu peroleh selama kuliah terus ia bawa hingga kini, baik dalam kehidupan profesional maupun pribadi. Ia menuturkan bahwa di dunia kerja, khususnya selama hampir dua dekade berkiprah di Jakarta, alumni UGM dikenal sebagai pribadi yang humble dan rendah hati. Julukan tersebut kerap dimaknai ganda sebagai pujian maupun candaan, tetapi bagi Bayu justru menjadi identitas yang patut dibanggakan. Kerakyatan, sikap membumi, serta kemampuan untuk terus mengikuti perkembangan zaman menjadi karakter yang menurutnya melekat kuat pada lulusan UGM.
Bagi Bayu, kekuatan UGM terletak pada kemampuannya melahirkan insan yang adaptif. Dunia terus bergerak cepat dan alumni dituntut untuk selalu menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa kehilangan nilai dasarnya. Kerendahan hati tidak menghalangi profesionalisme, tetapi justru menjadi modal untuk bekerja sama, belajar hal baru, dan bertumbuh di tengah tantangan yang semakin kompleks.
Kepada calon wisudawan UGM periode 2025/2026, Bayu berpesan agar senantiasa membawa ruh UGM dalam setiap langkah kehidupan. Tetaplah menjunjung nilai kerakyatan, menjaga sikap rendah hati, bersikap agile, serta terbuka terhadap perubahan zaman. Dengan memadukan nilai dan kemampuan adaptasi, alumni UGM akan mampu berkontribusi secara nyata di mana pun berada, sekaligus tetap relevan di tengah dinamika dunia yang terus berubah.
[Kantor Alumni: Ni Luh, Foto: Ira]