Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM bersama Pengurus Pusat Keluarga Alumni Gadjah Mada (PP KAGAMA) menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “Kesiapsiagaan Dampak El Niño: Memperkuat Ketahanan Kesehatan, Pangan, dan Masyarakat Indonesia” pada Sabtu (18/7), pukul 09.00–12.00 WIB melalui Zoom Meeting. Webinar ini diikuti oleh 92 peserta yang terdiri atas alumni, pengurus KAGAMA daerah, mahasiswa peserta KKN, dan masyarakat umum. Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Periode 2017–2025, Prof. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., sebagai pembicara utama. Turut hadir pula sebagai narasumber dr. Christian Febriandri, Sp.P., Prof. Dr. Bayu Dwi Apri Nugroho, S.T.P., M.Agr., Ph.D., serta Prof. Ir. Leni Sophia Heliani, S.T., M.Sc., D.Sc., IPU.
Direktur DPkM UGM, Dr.dr. Rustamaji, M.Kes., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini digagas untuk menindaklanjuti berbagai peringatan dini dari BMKG mengenai gangguan iklim agar dapat disebarluaskan kepada masyarakat secara lebih membumi. Ia berharap sinergi antara DPkM dan PP KAGAMA mampu menjembatani informasi akademis maupun populis dari BMKG agar dapat diantisipasi bersama oleh masyarakat luas. “Masyarakat perlu kita ajak bersama untuk mengantisipasi semua aspek dari El Nino ini,” ujarnya.
Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat dan Pelestarian Lingkungan PP KAGAMA, Sulastama Raharja, menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi isu masa depan, melainkan kenyataan yang tengah dihadapi saat ini. Ia menyampaikan bahwa Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 2026 memperkirakan peluang berkembangnya El Niño berada pada tingkat sangat tinggi dengan probabilitas sekitar 80% pada pertengahan tahun. Sulastama juga menyoroti peran strategis Kuliah Kerja Nyata (KKN) UGM sebagai agen pembelajaran masyarakat dalam mitigasi dan adaptasi iklim, mencakup konservasi air, pengelolaan lingkungan, diversifikasi pangan lokal, hingga edukasi kesehatan. “Kami berharap webinar ini melahirkan rekomendasi, jejaring, kolaborasi, dan langkah-langkah nyata yang dapat diterapkan di lapangan,” tuturnya.
Acara ini resmi dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si. Dalam sambutannya, ia menceritakan bagaimana inisiasi webinar ini bermula dari keresahan Prof. Dwikorita mengenai rentetan krisis alam yang terjadi, mulai dari banjir, tanah longsor, badai, hingga gempa bumi. Menurutnya, kerusakan alam kerap terjadi akibat logika eksploitatif yang bertabrakan dengan nalar yang dianggap rasional namun berdampak pada perubahan iklim. Ia menegaskan bahwa dunia perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk melakukan mitigasi melalui pengetahuan, teknologi, dan informasi. “KKN adalah bagian dari arena network yang bisa kita manfaatkan. Antisipasi El Niño bukan perkara instan, tetapi jangka panjang, dan kita harus mulai secara konsisten,” jelasnya.
Dalam paparannya, Prof. Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu muka laut di atas kondisi normal di Samudra Pasifik bagian ekuator tengah dan timur, yang menyebabkan pergeseran pertumbuhan awan dari wilayah Indonesia ke Pasifik Tengah dan Timur. Ia mengungkapkan bahwa pada 2026, Indonesia berpotensi menghadapi El Niño kuat yang disebut “Godzilla” yang diprediksi berlangsung sejak April hingga Oktober 2026 dengan puncak musim kemarau pada Agustus. Kondisi ini diperparah oleh fenomena Indian Ocean Dipole Positif yang turut memicu kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.
Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 2 tentang tanpa kelaparan melalui penguatan ketahanan pangan menghadapi ancaman gagal panen, SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera melalui antisipasi dampak kesehatan seperti ISPA dan diare akibat sanitasi buruk, serta SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim melalui penguatan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat. Webinar ini diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi UGM dan KAGAMA dalam membangun ketahanan masyarakat Indonesia menghadapi ancaman iklim secara berkelanjutan.
[Kantor Alumni dan Foto: Ni Luh]