Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Pemerintah Daerah, mitra industri, dan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Sulawesi Selatan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Sinergi UGM dengan Industri Sulawesi Selatan” pada Jumat (17/7) di Swiss-Belhotel Waterfront Losari, Makassar. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan UGM, pemerintah pusat dan daerah, mitra industri, serta KAGAMA Sulawesi Selatan sebagai upaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah dalam menyelaraskan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa forum tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat hubungan antara kampus, industri, dan pemerintah. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga intelektual yang mampu berpikir kritis, berdialog dengan realitas sosial, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat. “Tugas kampus tidak semata-mata menghasilkan sarjana, magister, maupun doktor, tetapi melahirkan lulusan yang mampu berdialog secara praksis dan memberikan solusi bagi berbagai persoalan,” ujarnya.
Arie juga menyoroti tantangan perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), yang semakin memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Menurutnya, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan karakter, integritas, dan nilai-nilai kemanusiaan agar lulusan mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana. “Teknologi informasi harus dikendalikan oleh otak dan hati kita,” tegasnya.
Ketua Pengurus Daerah KAGAMA Sulawesi Selatan, Dr. Asniar Humas, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan UGM yang terus
melibatkan alumni dalam berbagai agenda strategis pengembangan pendidikan. Ia menilai alumni memiliki peran penting sebagai jembatan antara dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Selain itu, ia berharap seluruh pemangku kepentingan yang hadir dapat memberikan masukan konstruktif bagi penyusunan kurikulum UGM agar semakin relevan dengan kebutuhan industri. “Kami berharap seluruh undangan dapat menyampaikan berbagai masukan yang menjadi perhatian kampus dalam menyusun kurikulum yang semakin link and match dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan cendera mata dari UGM kepada para mitra, serta paparan materi oleh Kepala Satuan Penjaminan Mutu dan Reputasi Universitas UGM, Prof. Dr. Indra Wijaya Kusuma, mengenai penguatan reputasi universitas melalui employer engagement dan jejaring strategis. Selanjutnya, Direktur Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Gandes Retno Rahayu, memaparkan strategi peningkatan mutu lulusan agar mampu menjawab kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis.
Melalui forum ini, UGM bersama KAGAMA Sulawesi Selatan, pemerintah daerah, dan mitra industri berupaya memperkuat peran alumni sebagai penghubung antara perguruan tinggi dengan dunia kerja, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam bidang pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen UGM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, alumni, pemerintah, dan dunia industri.
[Kantor Alumni: Hansel, Foto: KAGAMA Sulawesi Selatan]