Ada satu fase dalam perjalanan Spider-Man yang jarang dibahas seheboh pertarungannya melawan musuh besar, tapi justru paling relate dengan kehidupan orang biasa, fase yang dikenal oleh penggemar komik sebagai “Brand New Day”. Di fase ini, Peter Parker kehilangan banyak hal yang selama ini menopang hidupnya. Ia tidak lagi punya penghasilan tetap, koneksi-koneksi lama yang biasa ia andalkan tidak lagi bisa dipakai begitu saja, dan ia harus membangun ulang stabilitasnya dari titik yang hampir nol.
Situasi ini punya kemiripan yang mengejutkan dengan apa yang dialami banyak fresh graduate saat pertama kali terjun mencari kerja.
Fase yang Sama-Sama Tidak Pasti
Selepas wisuda, banyak orang membayangkan akan langsung melangkah mulus ke dunia kerja. Kenyataannya, lebih sering terjadi penolakan, keheningan setelah mengirim lamaran, dan kebingungan harus mulai dari mana. Zona nyaman kampus sudah tidak ada lagi, koneksi yang dulu terasa dekat dengan teman, dosen, atau organisasi belum tentu langsung bisa membuka pintu, dan semuanya terasa seperti dimulai dari nol.
Peter Parker di era Brand New Day mengalami hal yang serupa. Ia tidak diselamatkan oleh satu momen ajaib yang menyelesaikan semua masalahnya sekaligus. Yang menyelamatkannya adalah rutinitas kecil yang ia jalani berulang-ulang: memperkenalkan diri ke orang-orang baru, dan terus mengevaluasi diri dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya.
Fresh graduate yang sedang mencari kerja pertama sebenarnya berada di fase yang sama. Bedanya, fase ini tidak butuh kostum atau kekuatan super. Yang dibutuhkan adalah kebiasaan harian yang konsisten.
Enam Praktik Harian ala “Brand New Day”
- Riset, bukan asal apply.
Alih-alih mengirim puluhan lamaran ke sembarang posisi, lebih baik memilih tiga sampai lima lowongan yang benar-benar sesuai kualifikasi dirimu. Baca deskripsi pekerjaannya dengan teliti, kenali juga profil perusahaan yang dituju. Ini mirip dengan cara Peter yang selektif memilih tugas foto sesuai kemampuannya, bukan menerima semua tawaran tanpa pertimbangan.
- Sesuaikan CV dan cover letter, jangan pakai template yang sama untuk semua lamaran.
Menyesuaikan dua sampai tiga poin di CV dengan kata kunci yang muncul di lowongan akan membuat recruiter, lebih mudah menangkap relevansi seorang pelamar. Peter pun selalu menyesuaikan hasil fotonya dengan kebutuhan editor yang berbeda-beda, bukan mengirim hasil yang sama ke semua orang.
- Bangun portofolio kecil setiap minggu.
Tidak perlu proyek besar, fresh graduate bisa mulai dari merangkum satu studi kasus, mengikuti satu mini project, atau menuliskan satu refleksi belajar skill baru di LinkedIn. Reputasi Peter sebagai fotografer lepas pun dibangun dari kumpulan karya-karya kecil dari waktu ke waktu, bukan dari satu karya besar yang langsung mengubah segalanya.
- Keempat, latihan interview secara rutin.
Sisihkan dua puluh sampai tiga puluh menit seminggu sekali untuk berlatih menjawab pertanyaan interview umum, lalu rekam dan dengaekan ulang jawabannya. Hal itu membuat respons kita semakin natural seiring waktu. Sama seperti setiap tugas foto yang dijalani Peter menjadi ajang latihan yang mengasah insting dan responsnya.
- Evaluasi diri setiap minggu, jangan hanya menunggu.
Mengecek berapa banyak lamaran yang sudah di-follow up, pola penolakan apa yang muncul, dan satu hal yang bisa diperbaiki minggu depan untuk mengevaluasi dan menambah kualitas diri kita. Peter pun terus menyesuaikan strategi dari satu tugas ke tugas berikutnya, bukan menjalani harinya secara acak.
Brand New Day bukan hari ketika seseorang resmi diterima kerja. Brand New Day adalah hari ketika seseorang berhenti menunggu “siap sempurna”, dan mulai menjalani proses ini secara konsisten sekecil apapun langkah yang diambil hari itu.