Pengcab KAGAMA Banyuwangi bersama KAGAMA Komunitas Batik dan Wastra serta Tim KKN-PPM UGM mengadakan pelatihan membatik bagi anak-anak difabel tuna rungu dari SLB PGRI Cluring, di Desa Tampo, Banyuwangi (30/7). Desa Tampo dikenal sebagai sentra batik tulis dan telah ditetapkan sebagai Desa Wisata Batik sejak 2016. Dihadiri oleh perangkat desa dan komunitas KAGAMA, kegiatan ini mencerminkan komitmen nyata dalam mewujudkan lingkungan belajar yang inklusif dan memberdayakan.

Novi Indrastuti, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN di Kecamatan Cluring, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk dukungan UGM terhadap pemberdayaan anak-anak difabel. “Program ini bertujuan membekali keterampilan bagi anak-anak difabel, meningkatkan kemandirian, dan membuka lebih luas peluang kerja bagi mereka melalui keterampilan membatik sehingga mereka bisa lebih berpartisipasi aktif dalam masyarakat,” ujar Novi.
Melansir laman kagama.id, Pengcab KAGAMA Banyuwangi memainkan peran penting dalam mendukung keberlanjutan program KKN di Desa Tampo melalui keterlibatan dalam pelatihan serta advokasi pelestarian budaya lokal yang inklusif. Mereka juga mendorong agar Desa Tampo ditetapkan sebagai lokasi KKN berkelanjutan karena terbukti memberikan dampak sosial yang besar, khususnya bagi kelompok rentan.

Tidak hanya itu, untuk mendukung keberlanjutan pelatihan, KAGAMA Batik dan Wastra juga menyerahkan donasi sebagai wujud komitmen terhadap pemberdayaan difabel. Harapannya, Kecamatan Cluring dapat tumbuh menjadi sentra pelatihan membatik bagi anak-anak difabel se-Kabupaten Banyuwangi.
Dengan adanya kegiatan ini, UGM dan KAGAMA turut mendorong terwujudnya sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 10 tentang berkurangnya kesenjangan, SDG 11 tentang permukiman inklusif dan berkelanjutan, serta SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.
[Kantor Alumni: Sita, Berita dan Foto: kagama.id]