Dr. (H.C.) dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K)., Wali Kota Yogyakarta, adalah salah satu alumnus Fakultas Kedokteran UGM angkatan 1983 yang tumbuh dengan nilai-nilai kerakyatan sejak masa kuliahnya di Kampus Biru. Semasa menjadi mahasiswa, Hasto aktif berorganisasi dan pernah menjabat sebagai Ketua I Senat Fakultas Kedokteran UGM pada periode 1985–1987. Aktivitasnya tidak berhenti di ruang akademik saja, ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan bersama teman-temannya, sebuah pengalaman yang secara perlahan membentuk visi keberpihakan yang ia bawa hingga kini.
Bagi Hasto, masa kuliah di UGM menyimpan banyak pengalaman yang mengasah kepekaannya sebagai calon dokter. Ia bercerita bahwa saat praktik lapangan, tidak jarang pasien yang sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke bawah meminta bantuan ongkos sekadar untuk pulang. Kondisi tersebut membuatnya semakin memahami kehidupan masyarakat kecil dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial yang kuat dalam dirinya. Pengalaman-pengalaman sederhana namun penuh makna itu menjadi fondasi nilai kerakyatan yang terus ia pegang hingga sekarang. “Bertemu masyarakat yang beragam membuat saya belajar banyak tentang arti pengabdian,” kenangnya.
Dari UGM pula ia membawa nilai yang terus melekat hingga kini, yaitu nilai kerakyatan. Hasto menyebut bahwa ia tumbuh dengan refleks untuk membela yang lemah, hadir bagi mereka yang membutuhkan, dan rela berkorban untuk kepentingan masyarakat kecil. Ia menggambarkan bahwa pendidikan UGM tidak hanya menumbuhkan business entrepreneurship model, tetapi juga menanamkan human entrepreneurship model. Kemampuan seperti memimpin dengan hati, kepekaan sosial, dan keberanian untuk berpihak pada mereka yang rentan mengakar kuat dalam dirinya. Menurutnya, karakter tersebut menjadi pembeda mencolok ketika alumni diterjunkan ke tengah masyarakat.
Kepada Gen Z, Hasto memberikan pesan yang sangat tegas untuk jangan menjadi generasi stroberi. Ia menilai bahwa Gen Z akan menghadapi tantangan yang tidak ringan, termasuk kemungkinan menjadi sandwich generation yang memikul beban generasi di atasnya. Oleh karena itu, Gen Z harus membekali diri dengan keterampilan yang relevan, produktif dalam bekerja, serta memiliki keberanian untuk menciptakan lapangan pekerjaan. “Untuk menuju Indonesia yang maju, kalian harus tangguh, terampil, dan mampu memberi solusi,” pesannya.
Perjalanan Hasto dari mahasiswa dengan segala keterbatasan hingga menjadi pemimpin daerah adalah cerita tentang dedikasi, kerendahan hati, dan keberpihakan. Semua itu tumbuh dari nilai-nilai yang ia pelajari di UGM, nilai yang terus menuntun langkahnya dalam membangun masyarakat dan melayani dengan sepenuh hati.
[Kantor Alumni: Ni Luh, Foto: Vanesa]