KAGAMA Artificial Intelligence (AI) kembali menyelenggarakan kegiatan bertajuk Kagama AI Talks #3: Hiperpersonalisasi AI pada Kamis (13/11) pukul 19.00–21.00 WIB secara daring. Kegiatan ini diikuti oleh 24 peserta dan menghadirkan Andreas Maryoto sebagai pembicara utama, seorang Direktur Kompas Institute dan Wartawan Senior Kompas. Diskusi kali ini juga dipandu oleh Wahyudi Djafar, Ketua Harian KAGAMA AI sekaligus Direktur Eksekutif Catalyst Policy-Works.
Dalam sesi pemaparannya, Andreas menjelaskan bagaimana perkembangan kecerdasan buatan semakin memperluas praktik personalisasi data hingga mencapai tahap hiperpersonalisasi. Data pribadi menjadi sangat berharga karena dimanfaatkan dan dikapitalisasi oleh berbagai perusahaan teknologi, terutama dalam bidang bisnis dan pemasaran. “Dalam dunia marketing, personalisasi dilakukan agar perusahaan memahami kepribadian, preferensi, hingga kebiasaan konsumennya. Tujuannya adalah meningkatkan loyalitas pelanggan,” jelas alumnus Teknologi Pangan UGM ini.
Lebih lanjut, Andreas memaparkan bahwa hiperpersonalisasi merupakan bentuk personalisasi yang lebih mendalam karena memanfaatkan data secara real-time dan menghubungkannya dengan variabel lain seperti lokasi, perilaku penelusuran, waktu, bahkan kondisi cuaca. AI kini tidak hanya menganalisis data yang tertangkap, tetapi juga mengaitkan dengan berbagai konteks yang membentuk keputusan pengguna.
Dalam webinar KAGAMA AI kali ini, disoroti pula peran kanal pengumpulan data yang telah menjadi sangat kompleks, mulai dari cloud service, system mobile, enterprise systems, dan virtual systems. Infrastruktur ini menunjukkan besarnya kebutuhan data bagi perusahaan untuk tetap relevan dan kompetitif. Akan tetapi, personalisasi yang berlebihan justru dapat berdampak negatif. Hiperpersonalisasi yang tidak terkendali bisa merusak identitas merek, membatasi penemuan pelanggan baru, dan bahkan menurunkan efektivitas strategi pemasaran secara keseluruhan.
Sebagai penutup, Wahyudi Djafar menekankan bahwa kegiatan KAGAMA AI Talks menjadi wadah penting bagi alumni dan masyarakat untuk memahami dinamika perkembangan teknologi AI sekaligus implikasinya terhadap kebijakan publik. Melalui forum ini, KAGAMA AI tidak hanya berperan sebagai penyelenggara diskusi, tetapi juga aktif dalam memberikan masukan dan catatan kebijakan kepada pemerintah dan pemangku kepentingan terkait pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan di Indonesia.
Kegiatan ini turut berkontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur, serta SDG 16 tentang institusi yang kuat, dengan mendorong pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab dan beretika dalam masyarakat digital.
[Kantor Alumni, Foto: Ni Luh]