Dr. Ageng Setiawan Herianto merupakan alumnus Fakultas Pertanian UGM angkatan 1986 yang menapaki perjalanan profesional dengan berpegang pada nilai kerakyatan. Sejak masa kuliah, ia sudah menyadari bahwa ilmu tidak berhenti pada gelar saja, tetapi harus memberi arti bagi masyarakat, terutama bagi petani dan pelaku sektor pertanian.
Keinginannya untuk terus belajar membawanya meraih gelar doktor dari Kyoto University pada tahun 2004. Pengalaman tersebut membuka wawasannya tentang pertanian dalam konteks global. Sejak 2011, ia mengemban amanah sebagai Assistant FAO Representative–Programme di Food and Agriculture Organization Indonesia yang merupakan bagian dari United Nations. Dalam peran itu, ia banyak terlibat dalam upaya memperkuat kapasitas petani kecil dan pembangunan pertanian berkelanjutan.
Semasa mahasiswa, hidupnya tidak hanya berkutat pada buku dan praktikum. Ia aktif di GMNI, HMI, dan Agrika. Di sanalah ia belajar berdialog dan memahami beragam sudut pandang. Ia juga menekuni Perisai Diri yang melatih ketenangan dan disiplin. Pengalaman-pengalaman sederhana itulah yang perlahan membentuk kepemimpinan dan rasa percaya dirinya.
Ia meyakini ada kemampuan penting yang sering tidak diajarkan secara langsung di ruang kuliah. Kemampuan melihat persoalan secara menyeluruh dan kemampuan menyampaikan gagasan dengan empati sering kali justru diasah lewat pengalaman hidup. Baginya, ketika seseorang mampu memahami situasi dengan jernih dan berbicara dengan hati, kepercayaan akan datang dengan sendirinya. Dan dari situlah penghargaan di dunia profesional perlahan dibangun.
Nilai ke-UGM-an yang ia pegang sederhana namun kuat, yaitu selalu berpihak pada rakyat, terutama petani yang setiap hari bekerja memastikan pangan tersedia. Baginya, keberpihakan itu bukan sekadar slogan, melainkan sikap yang tercermin dalam setiap pilihan dan keputusan. Ia percaya perubahan lahir dari inovasi, pemahaman kebijakan yang baik, serta jejaring yang saling menguatkan. Kepada calon wisudawan UGM 2025/2026 dan generasi muda, ia berpesan agar cakap memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan karakter dan kepedulian, karena pada akhirnya yang membuat seseorang berarti adalah sejauh mana kehadirannya mampu memberi manfaat bagi orang lain.
[Kantor Alumni: Ni Luh, Foto: Ira]
excellent post, very informative. I wonder why the other specialists of this sector don’t notice this. You should continue your writing. I’m sure, you’ve a great readers’ base already!