Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama KAGAMA menyelenggarakan Seminar Sinergi UGM–KAGAMA bertajuk “Pencegahan Bunuh Diri, Penguatan Resiliensi, dan Sistem Dukungan Kesehatan Mental di Perguruan Tinggi” pada Sabtu (19/9) di Ruang Multimedia Lantai 3, Gedung Pusat UGM. Kegiatan ini diikuti oleh 90 peserta secara luring dan 472 peserta secara daring melalui Zoom Meeting. Hadir dalam kegiatan tersebut Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D., selaku Rektor UGM; Sulastama Raharja, S.T., M.T., selaku Ketua Bidang Pengabdian kepada Masyarakat dan Pelestarian Lingkungan Hidup PP KAGAMA; serta Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., selaku Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM.
Seminar ini diselenggarakan sebagai upaya memperkuat kepedulian terhadap kesehatan mental mahasiswa sekaligus mendorong terwujudnya ekosistem perguruan tinggi yang sehat, aman, suportif, dan resilien.
Dalam sambutannya, Prof. dr. Ova Emilia menyampaikan bahwa isu kesehatan mental saat ini menjadi salah satu perhatian penting dalam forum nasional. Hal tersebut tidak terlepas dari adanya kelompok usia 15–24 tahun yang memiliki risiko terhadap tindakan bunuh diri apabila persoalan kesehatan mental tidak ditangani secara tepat. Menurutnya, UGM memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan kampus yang mendukung kesehatan mental seluruh sivitas akademika.
“Semoga kita dapat mewujudkan kampus dengan kesehatan mental yang berkualitas untuk seluruh sivitas yang saling mendukung dan memberikan apresiasi positif,” ujarnya.
Selanjutnya, Sulastama Raharja menyampaikan data World Health
Organization (WHO) bahwa sekitar 73 persen kematian akibat bunuh diri terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah, sementara bunuh diri menjadi salah satu penyebab utama kematian pada kelompok usia 15–29 tahun. Menurutnya, angka tersebut tidak sekadar menjadi statistik, tetapi menggambarkan individu dan keluarga yang tengah menghadapi beban berat.
Dalam konteks perguruan tinggi, Sulastama menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman dan mampu membangun resiliensi. Kampus, menurutnya, perlu menjadi ruang yang membuat setiap orang merasa dihargai serta memastikan mahasiswa mengetahui tempat dan pihak yang dapat dihubungi ketika menghadapi persoalan.
“Kampus adalah tempat mahasiswa mengetahui kepada siapa harus berbicara ketika menghadapi persoalan. Kampus juga tempat meminta pertolongan tidak dianggap sebagai sebuah kelemahan,” jelasnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Dr. Wening Udasmoro menekankan pentingnya kebijakan yang terintegrasi dalam membangun sistem dukungan kesehatan mental di perguruan tinggi. Menurutnya, kebijakan tidak cukup hanya dituangkan dalam bentuk aturan tertulis, tetapi perlu diimplementasikan secara konsisten melalui sistem yang terstruktur.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan ekosistem layanan kesehatan di UGM melalui integrasi berbagai unit, seperti GMC, RSA UGM, dan Biro Pelayanan Kesehatan Terpadu (BPKT) UGM, serta penerapan aturan yang tegas terhadap tindakan kekerasan yang dapat berdampak pada kesehatan mental.
“Misalnya, peraturan yang jelas tentang pemberian sanksi bagi yang melanggar aturan dan memicu kekerasan terhadap kesehatan mental. Di UGM ini sangat ketat. Ketika jelas bahwa dia melakukan kesalahan, kita tidak akan menoleransi,” pungkasnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang menghadirkan Restu Tri Handoyo, S.Psi., M.Psi., Ph.D., selaku Ketua Unit Layanan Kesehatan Mental (UKLM) UGM; Lucia Peppy Novianti, M.Psi., selaku perwakilan KAGAMA; Kumala Windya Rochmani, M.Psi., selaku perwakilan Kapsigama; serta Dr. Novi Zain Alfajri, M.P.J., FISQua., selaku Direktur Pelayanan Medika dan Keperawatan RSA UGM. Diskusi dimoderatori oleh Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., selaku Kepala Biro Pelayanan Kesehatan UGM.
Melalui sesi diskusi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai layanan konsultasi kesehatan mental yang tersedia di UGM serta berbagai pendekatan preventif dalam menangani persoalan kesehatan mental di lingkungan perguruan tinggi. Diskusi juga menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya kolaborasi lintas unit dan pemangku kepentingan dalam membangun sistem dukungan yang responsif bagi sivitas akademika.
Seminar Sinergi UGM–KAGAMA ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, alumni, dan berbagai unit layanan kesehatan, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kampus yang peduli terhadap kesehatan mental, memperkuat sistem dukungan, serta mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman dan inklusif.
[Kantor Alumni: Hansel, Foto: Ira]