Sudah lewat tengah malam waktu itu, Rara masih sibuk dengan buku dan pensil yang ia genggam sedari 4 jam lalu. Yang ia tulis cukup banyak, dari rencana jenjang karier sampai mock interview yang sudah berapa ratus kali ia baca di depan kaca. Memang, ambisinya terlalu kuat sampai tubuhnya berteriak kesakitan. Walaupun tubuhnya sudah lemas, ia tetap bertahan. Pikirannya menganggap bahwa “apa yang ia lakukan sekarang merupakan keharusan untuk sukses.”
Kamu tahu gak sih, tadi itu termasuk toxic productivity, loh!
Produktivitas memang hal yang baik agar kita tetap mencapai hal yang bermakna secara efektif, tidak hanya sekadar menyibukkan diri. Terkadang, kita mengalaminya tanpa disadari.
Simak ciri-cirinya.
- Merasa bersalah saat tidak melakukan apa-apa
Seperti saat lagi tiduran, kamu udah ngerasa jadi “pemalas”. Nyatanya, tidur menjadi salah satu hal penting agar tubuhmu dapat memperbaiki sel-sel yang rusak.
- Terobsesi untuk selalu sibuk
Selalu cari kerjaan bahkan saat semua tugas sudah selesai agar kelihatan produktif dan tidak merasa bersalah pada diri sendiri karena tidak melakukan apa-apa
- Harga diri pada produktivitas
Merasa bernilai saat kamu menghasilkan sesuatu dan bekerja keras, hal ini sudah termasuk obsesi untuk terus bekerja agar kita tidak kehilangan kepercayaan diri, bukan untuk mencapai tujuan yang relevan dengan pekerjaan kita.
- Sulit bilang “tidak”
Pada setiap kasus, seseorang tidak berani mengatakan “tidak” pada setiap permintaan yang datang, meski tubuh sudah lelah atau sedang banyak pekerjaan, agar tidak takut mengecewakan orang lain.
- Mengabaikan kebutuhan tubuh
Selalu berpikir bahwa lelah merupakan salah satu pencapaian karena sudah bekerja keras dan tidak menghiraukan kesehatan dan kebutuhan dasar tubuh. Seperti saat sedang lapar atau mengantuk, tidak segera memenuhi kebutuhannya.
- Tidak pernah merasa cukup
Hari ini sudah mengerjakan banyak hal, tetapi tidak pernah merasa cukup dan ingin terus bekerja tanpa tahu keadaan di sekitar. Hal ini membuat kita apatis dan memperburuk kondisi fisik maupun sosial kita nantinya.
Cegah sebelum terlambat!
Dengan cara ini kami bisa menghindari dan menurunkan risiko mengalami toxic productivity. Coba mulai terapkan di aktivitas keseharianmu!
- Sejak awal kamu bisa beri batasan untuk dirimu sendiri, seperti waktu kerja ataupun waktu istirahat
Misal, dari awal bekerja, kamu tentukan dulu waktumu untuk bekerja 1 jam lalu untuk beristirahat 30 menit. Atau batasi waktu kerjamu sehari 4 jam, lalu sisanya untuk beristirahat dan mengeksplorasi hobi dan hal lain. Pembatasan ini tidak hanya memperjelas jam kerjamu, tetapi juga melatih diri untuk tetap efektif bekerja pada waktu yang sudah ditentukan.
- Pilih 2-3 tugas paling utama per hari, tidak semua tugas kamu kerjakan dengan tertatih-tatih
Batasi dalam 1 hari kamu ingin menyelesaikan berapa tugas agar tidak melebih-lebihkan dan mulai mengontrol diri untuk tetap memperhatikan diri sendiri dan sekitar. Jangan sampai kita bekerja secara tidak efektif dan hanya memperhatikan kuantitas saja.
- Learn to say NO! Hal ini simpel tapi kadang susah kita lakukan, menolak tambahan tugas bukan kegagalah tapi bentuk menjaga diri
Belajar untuk bilang “tidak” pada setiap permintaan yang datang, dan jangan takut untuk mengatakan bahwa kita sudah mencapai target hari ini dan sudah sepantasnya untuk mendapatkan istirahat.
- Tetap jaga kebutuhan dasar kamu. Tidur itu enggak bikin kamu jadi pemalas
Tetap perhatikan tubuh saat bekerja. Jika sudah merasa kelelahan, ambil waktu sejenak untuk beristirahat atau sekadar melakukan peregangan. Jangan paksakan tubuh untuk terus ke mode bekerja.
- Refleksikan lagi tujuan kamu melakukan semua tugas ini
Pikirkan lagi tujuanmu melakukan tugas dan kerja, apakah untuk menambah skill atau agar mempunyai kondisi finansial yang baik. Jika hanya untuk mendapatkan kepercayaan diri, coba pikirkan lagi tujuanmu untuk produktivitas.
- Sisakan waktu untuk melakukan hal tanpa tujuan, sekadar menikmati waktu buat otak “reset”
Sisakan waktu untuk melamun atau tidak melakukan apa pun. Hal ini penting untuk mereset otakmu. Tujuannya agar otakmu tidak kelelahan dan tetap fokus pada berbagai hal yang akan dikerjakan.
Produktif gak cuma kamu sedang mengerjakan sesuatu, tapi bagaimana cara kamu mengerjakan sesuatu dengan efektif dan relevan dengan tujuan akhirmu nanti!
Mulai sekarang kamu bisa menentukan dulu target dan batasan kamu dalam bekerja dan beristirahat. Kalau kamu sedang mengalami atau pernah mengalami toxic productivity, bisa ceritakan pengalaman kamu di kolom komentar, ya!