Ada satu momen yang hampir pernah dialami semua pekerja. Baru beberapa saat duduk di depan laptop, baru membuka beberapa tab pekerjaan, mungkin baru membalas beberapa pesan, lalu tanpa sadar mata mulai melirik jam, ternyata baru pukul 10.00. Lucunya, pekerjaan belum terlalu banyak berjalan, tetapi rasanya sudah ingin mengambil jeda sebentar. Entah untuk mengambil minum, mengobrol singkat dengan rekan kerja, atau sekadar berdiri dari kursi untuk meregangkan badan. Jika pernah mengalaminya, tenang saja, kamu tidak sendirian.
Tips-id
Irfan Afifi masih berkicau di acara diskusi bertema filsafat budaya Jawa di Bantul saat itu. Malam terasa sunyi, hanya ada kebisingan mikrofon dan diri sendiri yang masih belum bisa merelakan perginya kesempatan kerja yang sudah lama aku inginkan. Keraguan mulai muncul dan ketidakpuasan menggerogoti sekujur tubuh. “Sepertinya aku memang tidak layak” renungku di tengah kerumunan setelah ditolak oleh salah satu instansi yang cukup prestisius di Indonesia. Di tengah diskusi, Irfan Afifi sempat menyinggung Ki Ageng Suryomentaram, salah satu tokoh intelektual Jawa pada zaman kolonial.
Ada yang dulu mengira balsem, obat angin, dan kopi hanya identik dengan orang tua? Ternyata, seiring bertambahnya usia dan aktivitas, ketiganya perlahan menjadi bagian dari keseharian. Mulai dari tugas kuliah, organisasi, magang, hingga pekerjaan penuh waktu, tubuh sering kali harus beradaptasi dengan ritme yang semakin padat.
Sudah mau larut malam di kamar tamu waktu itu, televisi masih menyala dengan aku yang masih fokus mengamati berita yang menunjukkan artis yang sedang naik daun. Ia berhasil membuat film dengan penonton terbanyak di Indonesia saat ini. Aku teringat, artis itu adalah temanku sewaktu sekolah. Pikirku senang ya menjadi dia, orang sukses dan memiliki banyak uang. Apa yang sudah kuperbuat sampai saat ini sepertinya tidak ada gunanya?
Awal masuk dunia kerja memang sering terasa campur aduk. Di satu sisi, ada rasa semangat karena memasuki fase baru. Namun di sisi lain, ada juga tekanan yang datang hampir bersamaan, mulai dari adaptasi dengan lingkungan baru, ritme kerja yang cepat, sampai tuntutan untuk terlihat “baik-baik saja” setiap hari.
Pendakian gunung yang sudah aku jadwalkan dari minggu lalu sudah semakin dekat. Di satu hari pertama ini aku semakin yakin bahwa persiapanku semakin matang, dari mulai fisik, perlengkapan, sampai dengan bekal yang dibawa. Dengan persiapanku itu, tak heran aku sangat percaya diri dan yakin akan sampai ke puncak. Keesokan harinya, di tengah pendakian, aku melihat ada pendaki lain yang sudah mulai hilang harapan dan yakin bahwa dirinya sebentar lagi akan tumbang. Orang itu memandangi gunung dengan lesu dan bergumam, “Ini terlalu tinggi, saya pasti jatuh.”
Ada satu momen yang hampir selalu dirasakan para pekerja setelah long weekend, yaitu rasa kaget saat menyadari besok sudah hari Senin lagi. Setelah beberapa hari hidup terasa lebih tenang, tiba-tiba grup kantor kembali aktif dan alarm pagi kembali berbunyi seperti biasa.
Ada satu hal menarik tentang bulan Mei bagi para pekerja, yaitu kehadiran beberapa tanggal merah sering kali membuat suasana terasa sedikit lebih ringan. Kalender terlihat lebih ramah, alarm pagi tidak terlalu menyebalkan, dan ritme kerja terasa sedikit melambat dibanding biasanya. Meskipun singkat, jeda seperti ini sering kali memberi ruang kecil untuk bernapas lebih lega.
Ada fase dalam perjalanan karier yang tujuan utamanya bukan lagi berkembang pesat, melainkan bertahan. Pekerjaan tetap berjalan, tanggung jawab tetap diselesaikan, dan dari luar semuanya tampak baik-baik saja. Namun di balik itu, ada kelelahan yang tidak selalu terlihat, fase ketika energi terasa terbatas, pikiran penuh, dan yang paling ingin dicapai hanyalah melewati hari dengan baik.
Sudah berapa ratus kali aku mengikuti berbagai pelatihan sampai pengalaman organisasi segunung, sampai berhalaman-halaman portofolioku dibuatnya. Namun, hal itu ternyata belum cukup untuk aku yang fresh graduate mendapatkan kerja. Sekalinya mendapatkan kerja, aku pasti harus belajar lagi dari awal, seakan berbagai hal yang sudah aku lalui semasa kuliah belum cukup.