Suara nada dering masih bergetar, tanda grup Whatsapp kerja masih aktif. Sejumlah panggilan juga sesekali merusak fokus Ahmad saat melewati tugu Jogja sore itu. Kepalanya penuh tugas dan laporan, tetapi di tengah riuh kepala maupun jalan Jogja selepas kerja itu ia masih merasa senang dengan pekerjaannya sebagai Head of Marketing di salah satu perusahaan swasta.
Tips-id
Kalau beberapa tahun yang lalu ada yang bilang bahwa suatu saat nanti jam tidur akan terasa lebih berharga daripada promo kopi, mungkin banyak dari kita akan tertawa. Dulu rasanya semua harus dikejar. Alarm dipasang berkali-kali, kopi menjadi andalan supaya tetap terjaga, dan waktu tidur sering kali diabaikan. Selama pekerjaan selesai, semuanya terasa baik-baik saja.
Tarian dan lantunan lagu itu masih kental di ingatanku, meskipun sudah 3 tahun lebih berlalu. Tiap malam aku masih suka memikirkannya: kau dengan baju serba retro-mu itu, aku dengan baju garis-garis dan topi mangkuk. Kita berdansa, menghibur semuanya.
Pernah nggak sih, baru selesai satu pekerjaan, tiba-tiba datang tugas baru yang bikin isi kepala langsung penuh tanda tanya? Mulut tetap menjawab “Oke, noted”, padahal pikiran masih mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. Kalau pernah mengalami itu, tenang. Kamu tidak sendirian.
Sembari menyiapkan sarapan, Theo mulai membuka laptop, memeriksa email, lalu menghadiri rapat. Tak lupa, ia juga menyusun laporan per bulan mengenai target-target yang berhasil dicapai. Hari berjalan cepat, kalender penuh goresan spidol merah, to-do list tak pernah benar-benar kosong.
Hari gajian memang punya efek yang luar biasa. Notifikasi rekening masuk terasa seperti angin segar setelah sebulan bekerja. Rasanya ingin langsung checkout barang yang sudah lama masuk wishlist, traktir teman, atau sekadar menikmati hasil kerja keras dengan membeli makanan favorit.
Dalam menghadapi berbagai situasi, terkadang kita dibuat cemas oleh ketidakpastian yang akan datang. Entah ketidakpastian tersebut dipicu oleh perbandingan diri dengan orang lain maupun ketidakpercayaan akan kemampuan kita sendiri. Begitu pula dalam jenjang karier, terkadang kita merasa tidak yakin dengan jalan yang kita pilih. Di situasi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja ini, kita dituntut untuk serba bisa di tengah kompetisi yang semakin ketat. Tak heran jika situasi ini membuat kita bingung dan cemas.
Ada satu momen yang hampir pernah dialami semua pekerja. Baru beberapa saat duduk di depan laptop, baru membuka beberapa tab pekerjaan, mungkin baru membalas beberapa pesan, lalu tanpa sadar mata mulai melirik jam, ternyata baru pukul 10.00. Lucunya, pekerjaan belum terlalu banyak berjalan, tetapi rasanya sudah ingin mengambil jeda sebentar. Entah untuk mengambil minum, mengobrol singkat dengan rekan kerja, atau sekadar berdiri dari kursi untuk meregangkan badan. Jika pernah mengalaminya, tenang saja, kamu tidak sendirian.
Irfan Afifi masih berkicau di acara diskusi bertema filsafat budaya Jawa di Bantul saat itu. Malam terasa sunyi, hanya ada kebisingan mikrofon dan diri sendiri yang masih belum bisa merelakan perginya kesempatan kerja yang sudah lama aku inginkan. Keraguan mulai muncul dan ketidakpuasan menggerogoti sekujur tubuh. “Sepertinya aku memang tidak layak” renungku di tengah kerumunan setelah ditolak oleh salah satu instansi yang cukup prestisius di Indonesia. Di tengah diskusi, Irfan Afifi sempat menyinggung Ki Ageng Suryomentaram, salah satu tokoh intelektual Jawa pada zaman kolonial.
Ada yang dulu mengira balsem, obat angin, dan kopi hanya identik dengan orang tua? Ternyata, seiring bertambahnya usia dan aktivitas, ketiganya perlahan menjadi bagian dari keseharian. Mulai dari tugas kuliah, organisasi, magang, hingga pekerjaan penuh waktu, tubuh sering kali harus beradaptasi dengan ritme yang semakin padat.