Irfan Afifi masih berkicau di acara diskusi bertema filsafat budaya Jawa di Bantul saat itu. Malam terasa sunyi, hanya ada kebisingan mikrofon dan diri sendiri yang masih belum bisa merelakan perginya kesempatan kerja yang sudah lama aku inginkan. Keraguan mulai muncul dan ketidakpuasan menggerogoti sekujur tubuh. “Sepertinya aku memang tidak layak” renungku di tengah kerumunan setelah ditolak oleh salah satu instansi yang cukup prestisius di Indonesia. Di tengah diskusi, Irfan Afifi sempat menyinggung Ki Ageng Suryomentaram, salah satu tokoh intelektual Jawa pada zaman kolonial.
Irfan Afifi menjelaskan bahwa inti pemikiran Ki Ageng Suryomentaram dikenal melalui ajaran Kawruh Jiwa, yaitu ilmu tentang jiwa manusia. Menurutnya, manusia sering mengalami penderitaan karena terlalu terikat pada keinginan, harapan, dan berbagai hal yang bersifat sementara. Ketika seseorang berhasil memperoleh apa yang diinginkannya, rasa senang hanya bertahan sesaat sebelum muncul keinginan baru. Sebaliknya, ketika keinginannya tidak terpenuhi, ia akan merasa kecewa dan menderita. Oleh karena itu, manusia perlu memahami gerak keinginannya agar tidak menjadi budak dari keinginan tersebut.
Dalam pandangan Ki Ageng Suryomentaram, setiap manusia memiliki rasa yang sama. Perasaan senang, sedih, takut, marah, dan kecewa merupakan pengalaman universal yang dimiliki semua orang tanpa memandang status sosial, agama, atau latar belakang budaya. Kesadaran akan kesamaan rasa ini dapat menumbuhkan empati dan mengurangi konflik antarmanusia. Seseorang yang memahami dirinya akan lebih mudah memahami orang lain, sehingga tercipta hubungan sosial yang harmonis.
Ki Ageng Suryomentaram juga mengajarkan pentingnya hidup secara sadar pada saat ini. Ia menekankan bahwa banyak penderitaan muncul karena manusia terjebak dalam penyesalan masa lalu atau kekhawatiran terhadap masa depan. Dengan mengenali perasaan dan pikiran yang sedang dialami pada saat ini, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih tenang dan bijaksana. Sikap ini membantu manusia menerima kenyataan sebagaimana adanya tanpa kehilangan kemampuan untuk terus berkembang.
Dalam dunia kerja, kita sering kali mengalami kebuntuan dan ketidakpuasan terhadap hasil yang diperoleh. Dalam situasi tersebut, mari kita menelaah kembali pemikiran Ki Ageng Suryomentaram yang dapat menjadi pengingat dalam menjalani dunia kerja:
- Jadikan hasil seleksi kerja sebagai sarana belajar dan berkembang, bukan tolok ukur nilai diri di hadapan orang lain
- Bangun karier tidak semata-mata untuk memenuhi ambisis pribadi, tetapi juga sebagai ruang untuk terus bertumbuh, belajar, dan memperbaiki diri
- Terus mengembangkan hard skill dan soft skill melalui berbagai pelatihan, kelas daring, sertifikasi, maupun bacaan yang relevan, serta susun CV yang profesional dan mampu menampilkan nilai terbaik dari diri kita
- Perluas jejaring profesional dengan mengikuti seminar, webinar, career talk, maupun kegiatan pengembangan karier lainnya yang dapat membuka wawasan dan peluang baru.
- Bangun personal branding yang positif melalui media sosial dan platform profesional, namun tetap berfokus pada proses pengembangan diri, bukan semata-mata pengakuan dari orang lain
- Jangan memandang kegagalan sebagai kemunduran. Kegagalan merupakan bagian yang wajar dalam perjalanan karier dan sering kali menjadi sarana untuk membangun ketangguhan, kedewasaan, dan perspektif yang lebih luas
Ada banyak contoh lain lagi dalam menerapkan Ajaran Ki Ageng Suryomentaram dalam dunia kerja. Ajaran Kawruh Jiwa dapat menjadi salah satu fondasi diri yang paling kokoh jika diterapkan secara tepat dalam dunia kerja.
Suasana hening menghantui pikiranku, lalu lalang aku memikirkan lagi pemikiran Ki Ageng Suryomentaram, “Apakah selama ini hanya aku saja yang sibuk dengan kebahagiaan, bukan ketenangan diri?”