• Tentang UGM
  • Simaster
  • Perpustakaan
  • DTI UGM
  • ID
    • EN
    • ID
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Kantor Alumni
  • Beranda
  • TENTANG KAMI
    • PROFIL KANTOR ALUMNI
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • DIREKTORI STAF
  • PROGRAM ALUMNI
    • PEMBUATAN KARTU GAMA CO-BRAND
    • LEGALISASI IJAZAH & TRANSKRIP NILAI JARAK JAUH (ONLINE)
    • DONASI BEASISWA ALUMNI UGM
    • Tracer Study UGM
    • Pojok KAGAMA Komunitas
    • VERIFIKASI DATA ALUMNI OLEH MITRA PERUSAHAAN
  • PROGRAM KARIER
    • Tentang UGM Career
    • LOWONGAN KERJA
    • MAGANG
    • CAREER CLASS & ALUMNI SHARING
    • UGM Integrated Career Days
      • UGM INTEGRATED CAREER DAYS JUNI 2026
      • UGM INTEGRATED CAREER DAYS NOVEMBER 2025
      • UGM INTEGRATED CAREER DAYS 2025
      • UGM INTEGRATED CAREER DAYS NOVEMBER 2024
      • UGM INTEGRATED CAREER DAYS 2024
      • UGM Integrated Career Days November 2023
      • UGM Integrated Career Days Juni 2023
      • Gadjah Mada Career Festival (GMCF) 2022
      • UGM Integrated Career Days 2020
      • UGM ICD 2019
      • UGM ICD 2018
      • UGM ICD 2017
    • KONSELING KARIER
  • ALUMNI AWARDS
    • TENTANG UGM ALUMNI AWARDS 2026
    • PEMENANG ALUMNI AWARD
  • TETAP TERHUBUNG
    • KONTAK KAMI
    • FAKULTAS & SEKOLAH
    • MEDIA SOSIAL & HOTLINE SERVICE
    • KAGAMA
  • Beranda
  • Tips-id
  • Perfect Days di Kala Bisingnya Dunia

Perfect Days di Kala Bisingnya Dunia

  • Tips-id
  • 16 Juli 2026, 08.39
  • Oleh: Kantor Alumni
  • 0

Keringat mengucur deras. Ia duduk di kursi ruang tunggu toilet umum di Tokyo. Matanya menunjukkan rasa lelah setelah bekerja fisik yang menuntutnya berjam-jam menggosok dan mengepel kamar mandi. Meskipun terkadang melelahkan, ia masih bisa tersenyum dan makan di tempat langganannya tanpa beban pikiran. 

Ini bukan konsep asing dalam dunia kerja, banyak yang menyebutnya mindfulness atau kesadaran penuh. Tapi film Perfect Days menunjukkannya tanpa jargon korporat, tanpa aplikasi meditasi berbayar. Cukup dengan mendongak sebentar, memperhatikan cahaya dan bernapas. Mari kita bedah satu-satu”

  1. Konsep Komorebi atau Menemukan Keindahan di Sela Waktu Kerja

Dalam bahasa Jepang, fenomena cahaya yang menembus celah dedaunan ini disebut komorebi. Sebuah kata yang tidak memiliki padanan persis dalam bahasa lain, tetapi menangkap gagasan tentang keindahan sesaat yang mudah terlewat jika kita tidak menyempatkan diri untuk melihatnya. Hirayama mengajarkan sebuah praktik kecil namun kuat: jeda yang disengaja di tengah rutinitas kerja bukan pemborosan waktu, melainkan cara untuk tetap waras dan hadir.

Dalam dunia kerja, kita bisa melihat sejenak hal-hal kecil yang sering kita lewatkan. Cobalah untuk lebih memfokuskan sesuatu pada saat ini. Tidak dengan praktik yang besar, tetapi dengan hal kecil yang membuat kita senang, seperti membuat kopi susu di kantor, bercanda dengan teman, atau sekadar beranjak dari kursi dan berkeliling melihat sekitar. Kegiatan kecil yang disengaja tersebut membantu kita untuk lebih menghargai hal-hal kecil dalam hidup. 

  1. Pahami Batas Antara Kerja dan Kehidupan Pribadi

Menariknya, Hirayama nyaris tidak pernah membawa pulang beban pekerjaannya. Setelah jam kerja usai, ia mandi umum, makan di kedai langganan, membaca buku sebelum tidur, mendengarkan musik dari koleksi kaset yang ia rawat dengan telaten. Ia punya dunia batin yang kaya, terlepas dari profesinya yang oleh masyarakat dianggap “rendah”. Ini menyentuh isu yang sangat relevan bagi pekerja masa kini: kemampuan memisahkan identitas diri dari jabatan atau jenis pekerjaan. 

Di era di mana banyak orang merasa harus terus terhubung dengan pekerjaan lewat email dan pesan kerja bahkan di luar jam kantor, terkadang melupakan dunia pribadi. Cobalah untuk tetapkan batasan yang jelas antara kehidupan pribadi dan kompromikan pada diri sendiri terhadap batasan tersebut. Kamu bisa coba mengatur jadwal secara tertulis antara jadwal untuk hobimu dan kerja. Kerjakan apa saja yang bisa diselesaikan di kantor tanpa mengganggu jadwal hobimu. Hal ini bisa bantu kamu pelan-pelan untuk bekerja secara efektif tanpa menunda agar tercipta keseimbangan antara kehidupan kerja dengan kehidupan pribadi

  1. Ciptakan rutinitas kecil dalam Hidup 

Hirayama punya rutinitas personal yang benar-benar miliknya sendiri, tanpa gangguan, terasa seperti kemewahan yang justru bisa ditiru siapa saja, tanpa perlu biaya besar. Film ini tidak menghakimi pilihan apa pun, tapi ia menawarkan gambaran bahwa hidup yang tenang, sederhana, dan penuh kesadaran juga merupakan bentuk kesuksesan yang sah. Ciptakan ritual kecil di sela rutinitas. Entah itu lima menit menyeruput kopi tanpa gawai, berjalan kaki saat istirahat, atau sekadar memperhatikan langit di jeda-jeda kecil ini membantu menjaga kewarasan di tengah tekanan kerja.

Bagi pekerja mana pun, baik yang duduk di kantor ber-AC maupun yang bekerja di lapangan, pesan ini terasa dekat: kebermaknaan kerja tidak selalu datang dari besar-kecilnya jabatan atau gaji, tapi dari sejauh mana kita hadir dan peduli terhadap apa yang sedang kita kerjakan, detik demi detik, hari demi hari.

 

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Kantor alumni
Universitas Gadjah Mada
Bulaksumur Blok D5, Yogyakarta 55281
alumni@ugm.ac.id
+62 (274) 552810
+62 8112 5824 34

© 2023 - Kantor Alumni Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY