Rasa ingin resign secara mendadak sebenarnya pernah dialami hampir semua orang yang bekerja. Keinginan untuk keluar ini biasanya muncul saat beban kerja menumpuk atau rasa jenuh datang tanpa bisa dijelaskan dengan pasti. Namun, dorongan semacam ini sering lahir dari emosi sesaat, bukan pertimbangan yang matang. Padahal, resign adalah keputusan besar yang berdampak langsung pada stabilitas finansial dan arah karier ke depan. Resign seharusnya menjadi sebuah keputusan, bukan bentuk pelarian dari tekanan yang sedang dirasakan.
Agar keputusan resign benar-benar menjadi langkah yang matang dan bukan sekadar pelarian dari tekanan sesaat, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu.
- Hitung dan siapkan dana darurat.
Nilai ini idealnya dihitung berdasarkan total pengeluaran bulanan pokok, seperti tempat tinggal, makan, transportasi, dan cicilan jika ada, bukan berdasarkan penghasilan saat ini. Dana ini berfungsi sebagai jaring pengaman selama masa transisi mencari pekerjaan baru sehingga keputusan resign tidak berujung pada tekanan finansial yang justru menambah beban baru. - Jangan resign tanpa tahu tujuan.
Idealnya, proses ini sudah dimulai jauh sebelum hari terakhir bekerja, misalnya dengan memperbarui CV, mengidentifikasi tiga hingga lima perusahaan atau posisi yang sesuai, dan mulai mengirim lamaran atau menjalani wawancara sambil masih bekerja. Dengan begitu, masa transisi tidak dimulai dari nol tanpa gambaran arah yang jelas. - Beri waktu sebelum mengambil keputusan.
Selama jeda ini, ada baiknya menuliskan alasan ingin resign secara spesifik, lalu membacanya kembali setelah dua minggu berlalu untuk melihat apakah alasan tersebut masih relevan atau hanya reaksi sesaat terhadap kejadian tertentu yang sudah mereda. - Cari tahu apakah masalahnya masih bisa diperbaiki.
Sampaikan secara spesifik kepada atasan, HR, atau pihak yang dipercaya mengenai apa yang menjadi sumber tekanan sehingga kemungkinan solusi lain, seperti rotasi tugas, penyesuaian beban kerja, atau cuti panjang, bisa dipertimbangkan bersama sebelum benar-benar memutuskan untuk berhenti bekerja.
Pada akhirnya, resign bukanlah hal yang perlu dihindari sepenuhnya karena ada kalanya memang menjadi pilihan paling tepat, terutama jika kondisi kerja sudah benar-benar tidak sehat atau tidak sejalan dengan nilai dan tujuan pribadi. Namun, keputusan sebesar ini sebaiknya diambil dengan kepala yang tenang dan persiapan yang matang, bukan sekadar respons cepat terhadap tekanan yang sedang dirasakan pada satu momen tertentu.
Dengan dana darurat yang cukup, arah pekerjaan berikutnya yang sudah mulai terlihat, waktu untuk memastikan kembali alasan di baliknya, serta diskusi terbuka dengan pihak terkait, langkah resign dapat diambil dengan lebih percaya diri. Persiapan semacam ini yang membedakan resign sebagai keputusan yang membawa perbaikan nyata, dibandingkan sekadar pelarian yang justru menimbulkan masalah baru yang lebih berat di kemudian hari.