• Tentang UGM
  • Simaster
  • Perpustakaan
  • DTI UGM
  • ID
    • EN
    • ID
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Kantor Alumni
  • Beranda
  • TENTANG KAMI
    • PROFIL KANTOR ALUMNI
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • DIREKTORI STAF
  • PROGRAM ALUMNI
    • PEMBUATAN KARTU GAMA CO-BRAND
    • LEGALISASI IJAZAH & TRANSKRIP NILAI JARAK JAUH (ONLINE)
    • DONASI BEASISWA ALUMNI UGM
    • Tracer Study UGM
    • Pojok KAGAMA Komunitas
    • VERIFIKASI DATA ALUMNI OLEH MITRA PERUSAHAAN
  • PROGRAM KARIER
    • Tentang UGM Career
    • LOWONGAN KERJA
    • MAGANG
    • CAREER CLASS & ALUMNI SHARING
    • UGM Integrated Career Days
      • UGM INTEGRATED CAREER DAYS JUNI 2026
      • UGM INTEGRATED CAREER DAYS NOVEMBER 2025
      • UGM INTEGRATED CAREER DAYS 2025
      • UGM INTEGRATED CAREER DAYS NOVEMBER 2024
      • UGM INTEGRATED CAREER DAYS 2024
      • UGM Integrated Career Days November 2023
      • UGM Integrated Career Days Juni 2023
      • Gadjah Mada Career Festival (GMCF) 2022
      • UGM Integrated Career Days 2020
      • UGM ICD 2019
      • UGM ICD 2018
      • UGM ICD 2017
    • KONSELING KARIER
  • ALUMNI AWARDS
    • TENTANG UGM ALUMNI AWARDS 2026
    • PEMENANG ALUMNI AWARD
  • TETAP TERHUBUNG
    • KONTAK KAMI
    • FAKULTAS & SEKOLAH
    • MEDIA SOSIAL & HOTLINE SERVICE
    • KAGAMA
  • Beranda
  • Tips-id
  • Jadikan Resign Sebuah Keputusan, Bukan Pelarian

Jadikan Resign Sebuah Keputusan, Bukan Pelarian

  • Tips-id
  • 7 September 2026, 14.28
  • Oleh: Kantor Alumni
  • 0

Rasa ingin resign secara mendadak sebenarnya pernah dialami hampir semua orang yang bekerja. Keinginan untuk keluar ini biasanya muncul saat beban kerja menumpuk atau rasa jenuh datang tanpa bisa dijelaskan dengan pasti. Namun, dorongan semacam ini sering lahir dari emosi sesaat, bukan pertimbangan yang matang. Padahal, resign adalah keputusan besar yang berdampak langsung pada stabilitas finansial dan arah karier ke depan. Resign seharusnya menjadi sebuah keputusan, bukan bentuk pelarian dari tekanan yang sedang dirasakan.

Agar keputusan resign benar-benar menjadi langkah yang matang dan bukan sekadar pelarian dari tekanan sesaat, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu.

  • Hitung dan siapkan dana darurat.
    Nilai ini idealnya dihitung berdasarkan total pengeluaran bulanan pokok, seperti tempat tinggal, makan, transportasi, dan cicilan jika ada, bukan berdasarkan penghasilan saat ini. Dana ini berfungsi sebagai jaring pengaman selama masa transisi mencari pekerjaan baru sehingga keputusan resign tidak berujung pada tekanan finansial yang justru menambah beban baru.
  • Jangan resign tanpa tahu tujuan.
    Idealnya, proses ini sudah dimulai jauh sebelum hari terakhir bekerja, misalnya dengan memperbarui CV, mengidentifikasi tiga hingga lima perusahaan atau posisi yang sesuai, dan mulai mengirim lamaran atau menjalani wawancara sambil masih bekerja. Dengan begitu, masa transisi tidak dimulai dari nol tanpa gambaran arah yang jelas.
  • Beri waktu sebelum mengambil keputusan.
    Selama jeda ini, ada baiknya menuliskan alasan ingin resign secara spesifik, lalu membacanya kembali setelah dua minggu berlalu untuk melihat apakah alasan tersebut masih relevan atau hanya reaksi sesaat terhadap kejadian tertentu yang sudah mereda.
  • Cari tahu apakah masalahnya masih bisa diperbaiki.
    Sampaikan secara spesifik kepada atasan, HR, atau pihak yang dipercaya mengenai apa yang menjadi sumber tekanan sehingga kemungkinan solusi lain, seperti rotasi tugas, penyesuaian beban kerja, atau cuti panjang, bisa dipertimbangkan bersama sebelum benar-benar memutuskan untuk berhenti bekerja.

Pada akhirnya, resign bukanlah hal yang perlu dihindari sepenuhnya karena ada kalanya memang menjadi pilihan paling tepat, terutama jika kondisi kerja sudah benar-benar tidak sehat atau tidak sejalan dengan nilai dan tujuan pribadi. Namun, keputusan sebesar ini sebaiknya diambil dengan kepala yang tenang dan persiapan yang matang, bukan sekadar respons cepat terhadap tekanan yang sedang dirasakan pada satu momen tertentu.

Dengan dana darurat yang cukup, arah pekerjaan berikutnya yang sudah mulai terlihat, waktu untuk memastikan kembali alasan di baliknya, serta diskusi terbuka dengan pihak terkait, langkah resign dapat diambil dengan lebih percaya diri. Persiapan semacam ini yang membedakan resign sebagai keputusan yang membawa perbaikan nyata, dibandingkan sekadar pelarian yang justru menimbulkan masalah baru yang lebih berat di kemudian hari.

Post Views: 1

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Kantor alumni
Universitas Gadjah Mada
Bulaksumur Blok D5, Yogyakarta 55281
alumni@ugm.ac.id
career@ugm.ac.id
+62 (274) 552810
+62 8112 5824 34

© 2026 - Kantor Alumni Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY