Kala Dinda sudah berusaha berkali-kali mencoba beradaptasi pada situasi yang baru ia kenal selama kurang dari 2 minggu di tempat kerja, tetap saja rasa takut menghantui dirinya. Ia kesulitan untuk beradaptasi dan memberikan pertimbangan kepada rekan kerjanya soal beberapa hal. Terkadang dia juga bingung untuk bernegosiasi. Pemikiran gak enakan pun membuatnya semakin ragu untuk menyampaikan pendapat.
Kasus Dinda tersebut juga dibahas oleh Adam Grant dalam bukunya yang berjudul “Think Again: The Power of Knowing What You Don’t Know”. Isi buku tersebut mengeksplorasi pentingnya kemampuan untuk mempertimbangkan kembali dan meninggalkan pemikiran lama di dunia yang terus berubah. Grant mencoba menunjukkan bahwa kegagalan untuk melepaskan asumsi dan kebiasaan lama akan berakibat fatal. Ia menawarkan solusi berupa fleksibilitas kognitif.
Bagaimana praktiknya?
Grant membagikan panduan praktis bertajuk “Actions for Impact” yang berisi aksi konkret untuk melatih kebiasaan rethinking.
Tindakan nyata yang bisa dipraktikkan untuk melatih fleksibilitas kognitif
- Berpikir seperti Ilmuwan.
Saat membentuk opini, cobalah berpikir seperti ilmuwan, anggap pandanganmu sebagai hipotesis yang perlu diuji dengan data
- Terima kesalahan yang sudah dilakukan dan coba perbaiki
Cobalah untuk rendah hati dan tidak selalu menganggap keyakinan diri sebagai suatu kebenaran mutlak. Jadikan rasa ingin tahu, dan fleksibilitas mental sebagai identitasmu.
- Uji pikiranmu dengan bertanya kepada orang lain
Tanyakan kepada orang lain soal pemikiranmu saat ini dan mintalah pendapat untuk menunjukkan titik buta pada pendapatmu.
- Berani mengambil keputusan
Jangan hanya terdiam dalam pemikiran saja, coba praktikan langsung apa yang ingin kamu sampaikan kepada rekan kerjamu dengan tetap mencoba untuk mencari solusi terbaik.
Tindakan yang bisa dipraktikkan dalam berinteraksi dengan orang lain untuk melatih fleksibilitas kognitif
- Ajukan Pertanyaan dan Mendengarkan dengan Baik
Latih kemampuan mendengarkan daripada berbicara dan tingkatkan rasio pertanyaan dibanding pernyataan untuk membantu orang lain menemukan solusi
- Tanyakan “Bagaimana” Bukan Sekadar “Mengapa”
Saat orang diminta menjelaskan bagaimana pandangan mereka direalisasikan secara praktis, mereka sering menyadari keterbatasan pemahaman mereka sendiri.
- Fokus pada Kualitas Argumen, Bukan Kuantitas
Menyampaikan sedikit alasan yang sangat kuat jauh lebih efektif daripada menumpuk banyak alasan lemah yang memicu resistensi lawan bicara.
- Cari Titik Temu
Akui kebenaran argumen dengan tetap memberikan pertimbangan lain dan coba kompromikan argumenmu dan argumen lawan diskusimu
Langkah tersebut Grant bagikan agar Dinda mampu memproyeksikan dirinya sebagai seorang pembelajar dan harus menguji pikirannya. Ia bisa mulai belajar untuk menyusun kalimat atau berkomunikasi agar dapat menyampaikan pemikirannya tanpa kesalahan dan tetap mengevaluasi pemikirannya. Ke depannya, Dinda bisa berani untuk menguji pemikirannya, mendengarkan perspektif lain, dan menyampaikan pertimbangannya kepada rekan kerja.