• Tentang UGM
  • Simaster
  • Perpustakaan
  • DTI UGM
  • ID
    • EN
    • ID
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Kantor Alumni
  • Beranda
  • TENTANG KAMI
    • PROFIL KANTOR ALUMNI
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • DIREKTORI STAF
  • PROGRAM ALUMNI
    • PEMBUATAN KARTU GAMA CO-BRAND
    • LEGALISASI IJAZAH & TRANSKRIP NILAI JARAK JAUH (ONLINE)
    • DONASI BEASISWA ALUMNI UGM
    • Tracer Study UGM
    • Pojok KAGAMA Komunitas
    • VERIFIKASI DATA ALUMNI OLEH MITRA PERUSAHAAN
  • PROGRAM KARIER
    • Tentang UGM Career
    • LOWONGAN KERJA
    • MAGANG
    • CAREER CLASS & ALUMNI SHARING
    • UGM Integrated Career Days
      • UGM INTEGRATED CAREER DAYS JUNI 2026
      • UGM INTEGRATED CAREER DAYS NOVEMBER 2025
      • UGM INTEGRATED CAREER DAYS 2025
      • UGM INTEGRATED CAREER DAYS NOVEMBER 2024
      • UGM INTEGRATED CAREER DAYS 2024
      • UGM Integrated Career Days November 2023
      • UGM Integrated Career Days Juni 2023
      • Gadjah Mada Career Festival (GMCF) 2022
      • UGM Integrated Career Days 2020
      • UGM ICD 2019
      • UGM ICD 2018
      • UGM ICD 2017
    • KONSELING KARIER
  • ALUMNI AWARDS
    • TENTANG UGM ALUMNI AWARDS 2026
    • PEMENANG ALUMNI AWARD
  • TETAP TERHUBUNG
    • KONTAK KAMI
    • FAKULTAS & SEKOLAH
    • MEDIA SOSIAL & HOTLINE SERVICE
    • KAGAMA
  • Beranda
  • Tips-id
  • Pentingnya Fleksibilitas Kognitif di Dunia Kerja

Pentingnya Fleksibilitas Kognitif di Dunia Kerja

  • Tips-id
  • 17 September 2026, 15.21
  • Oleh: Kantor Alumni
  • 0

Kala Dinda sudah berusaha berkali-kali mencoba beradaptasi pada situasi yang baru ia kenal selama kurang dari 2 minggu di tempat kerja, tetap saja rasa takut menghantui dirinya. Ia kesulitan untuk beradaptasi dan memberikan pertimbangan kepada rekan kerjanya soal beberapa hal. Terkadang dia juga bingung untuk bernegosiasi. Pemikiran gak enakan pun membuatnya semakin ragu untuk menyampaikan pendapat.

Kasus Dinda tersebut juga dibahas oleh Adam Grant dalam bukunya yang berjudul “Think Again: The Power of Knowing What You Don’t Know”. Isi buku tersebut mengeksplorasi pentingnya kemampuan untuk mempertimbangkan kembali dan meninggalkan pemikiran lama di dunia yang terus berubah. Grant mencoba menunjukkan bahwa kegagalan untuk melepaskan asumsi dan kebiasaan lama akan berakibat fatal. Ia menawarkan solusi berupa fleksibilitas kognitif.

Bagaimana praktiknya?

Grant membagikan panduan praktis bertajuk “Actions for Impact” yang berisi aksi konkret untuk melatih kebiasaan rethinking. 

Tindakan nyata yang bisa dipraktikkan untuk melatih fleksibilitas kognitif

  • Berpikir seperti Ilmuwan. 

Saat membentuk opini, cobalah berpikir seperti ilmuwan, anggap pandanganmu sebagai hipotesis yang perlu diuji dengan data 

  • Terima kesalahan yang sudah dilakukan dan coba perbaiki

Cobalah untuk rendah hati dan tidak selalu menganggap keyakinan diri sebagai suatu kebenaran mutlak. Jadikan rasa ingin tahu, dan fleksibilitas mental sebagai identitasmu.

  • Uji pikiranmu dengan bertanya kepada orang lain

Tanyakan kepada orang lain soal pemikiranmu saat ini dan mintalah pendapat untuk menunjukkan titik buta pada pendapatmu.

  • Berani mengambil keputusan

Jangan hanya terdiam dalam pemikiran saja, coba praktikan langsung apa yang ingin kamu sampaikan kepada rekan kerjamu dengan tetap mencoba untuk mencari solusi terbaik. 

Tindakan yang bisa dipraktikkan dalam berinteraksi dengan orang lain untuk melatih fleksibilitas kognitif

  • Ajukan Pertanyaan dan Mendengarkan dengan Baik

Latih kemampuan mendengarkan daripada berbicara dan tingkatkan rasio pertanyaan dibanding pernyataan untuk membantu orang lain menemukan solusi

  • Tanyakan “Bagaimana” Bukan Sekadar “Mengapa”

Saat orang diminta menjelaskan bagaimana pandangan mereka direalisasikan secara praktis, mereka sering menyadari keterbatasan pemahaman mereka sendiri.

  • Fokus pada Kualitas Argumen, Bukan Kuantitas

Menyampaikan sedikit alasan yang sangat kuat jauh lebih efektif daripada menumpuk banyak alasan lemah yang memicu resistensi lawan bicara. 

  • Cari Titik Temu

Akui kebenaran argumen dengan tetap memberikan pertimbangan lain dan coba kompromikan argumenmu dan argumen lawan diskusimu

Langkah tersebut Grant bagikan agar Dinda mampu memproyeksikan dirinya sebagai seorang pembelajar dan harus menguji pikirannya. Ia bisa mulai belajar untuk menyusun kalimat atau berkomunikasi agar dapat menyampaikan pemikirannya tanpa kesalahan dan tetap mengevaluasi pemikirannya. Ke depannya, Dinda bisa berani untuk menguji pemikirannya, mendengarkan perspektif lain, dan menyampaikan pertimbangannya kepada rekan kerja. 

Post Views: 38

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Kantor alumni
Universitas Gadjah Mada
Bulaksumur Blok D5, Yogyakarta 55281
alumni@ugm.ac.id
career@ugm.ac.id
+62 (274) 552810
+62 8112 5824 34

© 2026 - Kantor Alumni Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY