Pendakian gunung yang sudah aku jadwalkan dari minggu lalu sudah semakin dekat. Di satu hari pertama ini aku semakin yakin bahwa persiapanku semakin matang, dari mulai fisik, perlengkapan, sampai dengan bekal yang dibawa. Dengan persiapanku itu, tak heran aku sangat percaya diri dan yakin akan sampai ke puncak. Keesokan harinya, di tengah pendakian, aku melihat ada pendaki lain yang sudah mulai hilang harapan dan yakin bahwa dirinya sebentar lagi akan tumbang. Orang itu memandangi gunung dengan lesu dan bergumam, “Ini terlalu tinggi, saya pasti jatuh.”
Tips-id
Ada satu momen yang hampir selalu dirasakan para pekerja setelah long weekend, yaitu rasa kaget saat menyadari besok sudah hari Senin lagi. Setelah beberapa hari hidup terasa lebih tenang, tiba-tiba grup kantor kembali aktif dan alarm pagi kembali berbunyi seperti biasa.
Ada satu hal menarik tentang bulan Mei bagi para pekerja, yaitu kehadiran beberapa tanggal merah sering kali membuat suasana terasa sedikit lebih ringan. Kalender terlihat lebih ramah, alarm pagi tidak terlalu menyebalkan, dan ritme kerja terasa sedikit melambat dibanding biasanya. Meskipun singkat, jeda seperti ini sering kali memberi ruang kecil untuk bernapas lebih lega.
Ada fase dalam perjalanan karier yang tujuan utamanya bukan lagi berkembang pesat, melainkan bertahan. Pekerjaan tetap berjalan, tanggung jawab tetap diselesaikan, dan dari luar semuanya tampak baik-baik saja. Namun di balik itu, ada kelelahan yang tidak selalu terlihat, fase ketika energi terasa terbatas, pikiran penuh, dan yang paling ingin dicapai hanyalah melewati hari dengan baik.
Sudah berapa ratus kali aku mengikuti berbagai pelatihan sampai pengalaman organisasi segunung, sampai berhalaman-halaman portofolioku dibuatnya. Namun, hal itu ternyata belum cukup untuk aku yang fresh graduate mendapatkan kerja. Sekalinya mendapatkan kerja, aku pasti harus belajar lagi dari awal, seakan berbagai hal yang sudah aku lalui semasa kuliah belum cukup.
Pernah nggak sih ada di fase yang rasanya seperti “yaudah, dijalanin aja.” Kerjaan numpuk tetap dikerjain, deadline mepet tetap dikejar, pikiran penuh juga tetap ditahan. Dari luar memang kelihatan baik-baik saja, kamu masih kerja, masih balas chat, atau masih bisa ketawa. Tapi di dalam ada momen kecil yang membuatmu merasa butuh sandaran untuk sekadar istirahat. Jujur, itu hal yang sangat manusiawi.
Sudah lewat tengah malam waktu itu, Rara masih sibuk dengan buku dan pensil yang ia genggam sedari 4 jam lalu. Yang ia tulis cukup banyak, dari rencana jenjang karier sampai mock interview yang sudah berapa ratus kali ia baca di depan kaca. Memang, ambisinya terlalu kuat sampai tubuhnya berteriak kesakitan. Walaupun tubuhnya sudah lemas, ia tetap bertahan. Pikirannya menganggap bahwa “apa yang ia lakukan sekarang merupakan keharusan untuk sukses.”
Waktu sahur bukan cuma untuk makan, melainkan juga jadi kesempatan emas untuk menambah skill & wawasan tanpa ganggu rutinitas kerja. Cukup 10-15 menit setelah sahur, kamu bisa belajar hal baru yang mendukung karier. Gimana cara memanfaatkan waktu sahur sebagai investasi masa depan? Simak #TipsKarier hari ini! 🚀
Wisuda bukanlah garis finish, justru ini adalah awal petualangan baru! 🔥 Bagi banyak fresh graduates, momen ini bisa terasa membingungkan: langsung kerja, lanjut studi, atau mengejar passion? Nah, biar kamu nggak nyasar di persimpangan hidup, simak strategi jitu meniti karier setelah lulus pada #TipsKarier hari ini!
Mungkin kamu sudah sering mendengar istilah CSR, atau Corporate Social Responsibility, yang semakin populer di banyak perusahaan. CSR bukan hanya soal memberi sumbangan atau melakukan kegiatan sosial, tetapi lebih dari itu, ini adalah cara perusahaan untuk berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan. Yuk, simak #TipsKarier berikut yang bisa membantumu sukses berkarier di dunia CSR!